Minggu, 24 Januari 2016

Mengapa Mereka Merasa Paling Benar?

Terjawablah sudah kenapa mereka selama ini merasa paling benar, paling tarjih, paling “nyunnah”, semua itu karena mereka merasa telah mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyaataannya mereka mengikuti pemahaman ulama-ulama mereka sendiri.
Tentu mereka tidak bertemu dengan para Salafush Sholeh, mereka mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui upaya pemahaman (ijtihad) yang telah dilakukan oleh ulama-ulama mereka sendiri. Kita paham bahwa setiap upaya pemahaman (ijtihad) bisa benar dan bisa pula salah. Lagi pula ulama-ulama mereka tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak.
Diantara mereka bahkan ada yang berpendapat bahwa pendapat/pemahaman selain mereka adalah sesat sebagaimana contoh yang terlukis pada http://nasihatonline.wordpress.com/2010/09/24/fatwa-fatwa-ulama-ahlus-sunnah-tentang-kelompok-kelompok-islam-kontemporer/
Andai mereka menyadari di akhirat kelak bahwa ada pemahaman yang mereka ikuti adalah kesalahpahaman-kesalahpahaman ulama mereka tentulah menjadi penyesalan yang tidak berguna.
Firman Allah ta’ala yang artinya,
“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (QS al Baqarah [2]: 166)
“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS Al Baqarah [2]: 167)
Dalam tulisan kami sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/18/mereka-terindoktrinisasi/ dapat kita ketahui pola indoktrinisasi yang dilakukan oleh para ulama yang mengatasnamakan pemahaman mereka sebagai pemahaman Salafush Sholeh.
Memang ulama mereka membaca Al Qur’an , Tafsir bil Matsur, Hadits Shohih, Sunan, Musnad, lalu ulama mereka pun berjtihad dengan pendapat mereka. Apa yang ulama mereka katakan tentang kitab-kitab tersebut, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra’yu ulama mereka sendiri. Sumbernya memang Quran dan Sunnah, tapi apa yang ulama-ulama mereka sampaikan semata-mata lahir dari kepala mereka sendiri. Setiap upaya pemahaman bisa benar dan bisa pula salah, yang pasti benar hanyalah lafaz/nash Al Qu’ran dan Hadits
Kesalahpahaman besar telah terjadi ketika ulama-ulama mereka mengatakan bahwa apa yang mereka pahami dan sampaikan adalah pemahaman Salafush Sholeh. Jika apa yang ulama mereka pahami dan sampaikan sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh tentu tidaklah masalah namun ketika apa yang ulama mereka pahami dan sampaikan tidak sesuai dengan pemahaman sebenarnya Salafush Sholeh maka pada hakikatnya ini termasuk fitnah terhadap para Salafush Sholeh. Fitnah akhir zaman.
Mereka merasa pemahaman mereka telah dikembalikan kepada pemahaman ulama Salaf namun pada kenyataannya mereka mengembalikan kepada ulama-ulama mereka yang berupaya memahami tulisan/lafaz perkataan atau pendapat ulama Salaf dimana setiap upaya pemahaman bisa benar dan bisa pula salah.
Mereka mengembalikan pemahaman kepada pemahaman ulama-ulama yang mengaku menisbatkan diri kepada pemahaman Salafush Sholeh seperti ulama Ibnu Taimiyyah, ulama Ibnu Qoyyim Al Jauziah, ulama Muhammad bin Abdul Wahhab atau bahkan ulama seperti ulama Al Albani.
Pada hakikatnya upaya penisbatan diri adalah bisa berhasil dan bisa pula gagal atau berhasil sebagian. Tidak dapat dipastikan bahwa mereka yang menisbatkan diri kepada Salafush Sholeh maka pemahaman mereka pasti sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh.
Ulama-ulama terdahulu telah menolak pemahaman ala pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah dan pemahaman beliau telah terkubur sejak lama namun diangkat kembali oleh ulama Muhammad bin Abdul Wahhab dan juga ditengarai diangkat kembali oleh kaum Zionis Yahudi untuk upaya ghazwul fikri.
Contoh ulama kita terdahulu yang menolak pemahaman ala pemahaman Ibnu Taimiyyah adalah Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Beliau adalah ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafi’i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dia memiliki peranan penting di Makkah al Mukarramah dan di sana menjadi guru para ulama Indonesia.
Nama lengkapnya adalah Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi, lahir di Koto Gadang, IV Koto, Agam, Sumatera Barat, pada hari Senin 6 Dzulhijjah 1276 H (1860 Masehi) dan wafat di Makkah hari Senin 8 Jumadil Awal 1334 H (1916 M)
Syaikh Ahmad Khatib dengan tegas menulis Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dan Wahhabiyah yang diikuti oleh anak murid beliau [Syaikh Abdul Karim Amrullah] adalah sesat (paham menyesatkan).
Menurut Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, golongan tersebut sesat (paham menyesatkan) karena keluar daripada pemahaman Ahlus-Sunnah wa al-Jamaah dan menyalahi pegangan mazhab yang empat. Antara lain tulisannya ialah ‘al-Khiththah al-Mardhiyah fi Raddi fi Syubhati man qala Bid’ah at-Talaffuzh bian-Niyah’, ‘Nur al-Syam’at fi Ahkam al-Jum’ah’ dan lain-lain.
Di antara nasehatnya: “Maka betapakah akan batal dengan pikiran orang muqallid yang semata-mata dengan faham yang salah dengan taqlid kepada Ibnu al-Qaiyim yang tiada terpakai qaulnya pada Mazhab Syafie. Maka wajiblah atas orang yang hendak selamat pada agamanya bahawa dia berpegang dengan segala hukum yang telah tetap pada mazhab kita. Dan janganlah ia membenarkan akan yang menyalahi demikian itu daripada fatwa yang palsu.”
Kesalahpahaman selama ini adalah pada hakikatnya tidak ada yang namanya pemahaman Salafush Sholeh atau manhaj/mazhab Salafush Sholeh karena penisbatan tersebut berlaku pada orang per orang bukan kepada suatu generasi. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/06/04/adakah-manhaj-salaf/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/06/06/ikutilah-orang-sholeh/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/06/07/mengapa-harus-salafi/
Semakin jelas apa yang telah ditulis oleh ulama besar Syria, pakar syariat (fiqih), DR. Said Ramadhan Al-Buthy dalam bukunya yang berjudul Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah. Kalau kita terjemahkan secara bebas, kira-kira makna judul itu adalah : Paham Anti Mazhab, Bid’ah Paling Gawat Yang Menghancurkan Syariat Islam.
Gerakan paham anti mazhab ditengarai merupakan upaya ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilakukan oleh kaum Yahudi yang pada masa kini adalah kaum Zionis Yahudi.
Kaum Zionis Yahudi adalah kaum yang paling keras permusuhannya kepada kaum muslim
Firman Allah yang artinya,
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).
Kaum Zionis Yahudi atau juga dikenal dengan lucifier, freemason atau iluminati adalah mereka yang mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman. Kaum Zionis Yahudi berupaya keras agar umat muslim dapat mencintai mereka dan menjadikan mereka sebagai pemimpin dunia atau yang dikenal dengan “the new world order”
Allah Azza wa Jalla telah menceritakan tentang kaum Zionis Yahudi yang mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman dalam firmanNya yang artinya
“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah) dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (QS Al Baqarah [2]:101-102 )
Cara kaum Zionis Yahudi menyebarluaskan paham anti mazhab adalah berbungkus slogan agar kaum muslim merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits dengan akal pikiran masing-masing tanpa mempedulikan kompetensi untuk dapat melakukan ijtihad (upaya pemahaman).
Perkataan Imam Mazhab yang sering disalahgunakan adalah seperti perkataan Imam Ahmad Bin Hanbal
لاَ تَقَلَّدْنِي وَلاَ تَقَلَّدْ مَالِكًا وَلاَ الشَّافِعِي وَلاَ اْلأَوْزَاعِي وَلاَ الثَّوْرِي وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوا .[ابن القيم في إعلام الموقعين]
Artinya: “Janganlah engkau taqlid kepadaku, demikian juga kepada Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Auza’i dan Imam ats-Tsauri. Namun periksalah darimana mereka (para Imam itu) mengambil (yaitu al-Quran dan as-Sunnah)”.
Kekeliruan besar kalau perkataan Imam Ahmad Bin Hanbal diartikan bahwa umat Islam diperintahkan untuk merujuk Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing. Perkataan Beliau hanya menasehatkan agar kita mengikuti para Imam Mazhab sambil merujuknyadarimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.
Untuk apa para Imam Mazhab bersusah payah memuliskan kitab fiqih kalau mereka menyuruh umat Islam untuk melakukan ijtihad atau bahkan istinbat (menetapkan hukum perkara) masing-masing. Imam Mazhab artinya Imam Mujtahid atau pemimpin ijtihad yang seharusnya kita ikuti karena mereka memang berkompetensi sebagai imam mujtahid mutlak.
Pada hakikatnya pintu ijtihad boleh dikatakan telah tertutup. Tidak seluruh hadits telah dibukukan namun sebagaian hanya dihafal oleh ulama-ulama Salaf yang Sholeh. Adanya hadits-hadits yang hanya dihafal tersebutlah yang merupakan bagian dari sumber para Imam Mazhab menetapkanhukum perkara atau beristinbat. Bahkan Ahlul Hadits terdahulu mereka tetap mengikuti Imam Mazhab karena mereka hanya “menyajikan” hadits tidak berkompetensi menetapkan hukum perkara atau beristinbat. Apalagi dengan adanya kemungkinan upaya ghazwul fikri dari musuh-musuh Islam. Contohnya mereka merampas literatur atau manuscript karya ulama-ulama terdahulu dari perpustakaan-perpustakaan Islam ketika peperangan antara kaum muslim dengan kaum kafir dan adanya kemungkinan “mengembalikan” kepada kaum muslim setelah melakukan perubahan. Wallahu a’lam
Mereka yang terpengaruh gerakan anti mazhab adalah mereka yang merujuk Al Qur’an dan Hadits berdasarkan ijtihad (pemahaman) mereka masing-masing dan beberapa pemahaman mereka menyelisihi pemahaman pendapat para Imam Mazhab adalah:
Pengikut ulama Ibnu Tamiyyah (Salafi),
Pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab (Salafi Wahhabi),
Pengikut ulama-ulama di Yaman dan di Timur-Tengah seperti ulama Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i. (Salafi Yamani)
Pengikut ulama Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin (Salafi Sururi),
Pengikut ulama Jamaludin Al-Afghany bersama muridnya ulama Muhammad Abduh kemudian dilanjutkan oleh ulama Rasjid Ridha dll yang menerapkan sistem pergerakan atau organisasi (Salafi Haraki).
Diantara mereka sendiri berselisih padahal sumber pemahaman sama yakni pemahaman Ibnu Taimiyyah (Salafi) http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/15/2011/05/01/inikah-salafi-indonesia/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/15/2010/10/14/taubat-seorang-ustadz/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/10/pertengkaran-wahabisalafi/
Firman Allah Azza wa Jalla,
أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS An Nisaa 4 : 82)
Firman Allah ta’ala dalam (QS An Nisaa 4 : 82) menjelaskan bahwa dijamin tidak ada pertentangan di dalam Al Qur’an.
Jikalau manusia mendapatkan adanya pertentangan di dalam Al Qur’an maka pastilah yang salah adalah pemahamannya. Begitu juga jika ada dua pihak berpemahaman yang bertentangan atau bertolak belakang (bukan perbedaan furu) maka pastilah salah satu ada yang salah dalam memahami Al Qur’an dan Hadits
Sebaiknya janganlah kita merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits dengan akal pikiran masing-masing dan jangan pula mengikuti ulama-ulama yang tidak jujur karena tidak mau mengakui bahwa apa yang mereka sampaikan adalah upaya pemahaman (ijtihad) mereka sendiri.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
“Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)
Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)
Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.
Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”
Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203
Contoh rantai sanad ilmu Imam Asy Syafi’i
1. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
2. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra
3. Al-Imam Nafi’,Tabi’ Abdullah bin Umar ra
4. Al-Imam Malik bin Anas ra
5. Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra
Bagi ulama yang tidak bermazhab maka pada hakikatnya telah memutus rantai sanad ilmu atau sanad guru.
Marilah kita mengikuti atau berpedoman dengan pendapat atau pemahaman para Imam Mazhab dan penejelasan dari pengikutnya sambil kita merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits.


Wassalam

Zon di Jonggol , Kab Bogor 16830

Sabtu, 23 Januari 2016

Dalil Tahlilan

TAHLILAN berasal dari kata hallala, yuhallilu. Tahlilan, artinya membacakan kalimat La Ilaha Illalloh.
Seperti yang tertera dalam Lisanul ’Arab bagi Ibnu Mandzur Al-Ifriqy juz XIII sebagai berikut
ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻴﺚ ﺍﻟﺘﻬﻠﻴﻞ ﻗﻮﻝ ﻻﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ
”Telah berkata Allaits :arti Tahlil adalah mengucapkan ﻻﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ”
Dan yang perlu kita ketahui adalah semua rangkaian kalimat yang ada dalam Tahlil diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang pahalanya dihadiahkan untuk si mayyit.
Tahil ini dijalankan berdasar pada dalil-dalil.
DALIL YANG PERTAMA :
(Al-Tahqiqat, juz III. Sunan an-Nasa’i, juz II)
ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺃﻋﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﻴﺖﺑﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺫﻛﺮﺍﺳﺘﻮﺟﺐﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﺍﻟﺠﻨﺔ
 ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻰ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺉ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ))
Barang siapa menolong mayyit dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan dzikir, maka Alloh memastikan surga baginya.”
(HR. ad-Darimy dan Nasa’I dari Ibnu Abbas)
DALIL YANG KEDUA
(Tanqih al-Qoul)
ﻭﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ ﺗﺼﺪﻗﻮﺍﻋﻠﻰ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺍﺗﻜﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺍﺗﻜﻢ ﻭﻟﻮﺑﺸﺮﺑﺔ ماﺀﻓﺎﻥ ﻟﻢ ﺗﻘﺪﺭﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻓﺒﺄﻳﺔ ﻣﻦ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﺎﻥ ﻟﻢ ﺗﻌﻠﻤﻮﺍﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺀﺍﻥ ﻓﺎﺩﻋﻮ ﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﻤﻐﻔﺮﺓ ﻭﺍﻟﺮﺣﻤﺔ ﺍﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﺪﻛﻢ ﺍﻹﺟﺎﺑﺔ
Bersedekahlah kalian untuk diri kalian dan orang-orang yang telah mati dari keluarga kalian walau hanya air seteguk. Jika kalian tak mampu dengan itu, bersedekahlah dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Jika kalian tidak mengerti Al-Qur’an, berdo’alah untuk mereka dengan memintakan ampunan dan rahmat. Sungguh,  ﺗﻌﺎﻟﻰ الله  telah berjanji akan mengabulkan do’a kalian.”
DALIL YANG KETIGA ;
(Kasya-Syubhat li as-Syaikh Mahmud Hasan Rabi)
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺑﻰ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻳﻌﻨﻰﻟﺰﺍﺋﺮ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ﺃﻥ ﻳﻘﺮﺃﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺀﺍﻥ ﻣﺎﺗﻴﺴﺮﻭﻳﺪﻋﻮﻟﻬﻢ ﻋﻘﺒﻬﺎﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰﻭﺍﺗﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ
“Dalam Syarah al-Muhamdzdzab Imam an-Nawawi berkata: Adalah disukai seorang berziarah kepada orang mati lalu membaca ayat-ayat al-Qur’an sekedarnya dan berdo’a untuknya.
Keterangan ini diambil dari teks Imam Syafi’I dan disepakati oleh para ulama yang lainnya.”
DALIL KEEMPAT ;
ﺇﻗﺮﺀﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﻣﻮﺗﺎﻛﻢ ﻳﺴﻰ
( (ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺣﻤﺪ ﻭﺍﺑﻮﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ
“Bacalah atas orang-orangmu yang telah mati, akan Surat Yasin” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah,
Ibnu Hibban, dan Alhakim)
DALIL KELIMA ;
(Fathul mu’in pada Hamisy I’anatuttholibin, juz III)
ﻭﻗﺪ ﻧﺺ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰﻭﺍﻷﺻﺤﺎﺏ ﻋﻠﻰ ﻧﺪﺏﻗﺮﺍﺀﺓ ﻣﺎ ﺗﻴﺴﺮﻋﻨﺪﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻋﻘﺒﻬﺎﺍﻯ ﻻﻧﻪ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﺍﺭﺟﻰﻟﻼﺟﺎﺑﺔ ﻭﻻﻥ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺗﻨﺎﻟﻪﺑﺮﻛﺔ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻛﺎﻟﺤﻲﺍﻟﺤﺎﺿﺮ
“Dan telah menyatakan oleh Assyafi’I dan Ashab-nya atas sunnah membaca apa yang mudah di sisi mayit,
dan berdo’a sesudahnya, artinya karena bahwasanya ketika itu lebih diharapkan diterimanya, dan karena bahwa mayyit itu mendapatkan barokah qiro’ah seperti orang hidup yang hadir.”
Dan masih banyak dalil-dalil lain….

Jumat, 04 September 2015

Hukum Tajwid II

Hukum Mim Sukun (مْ)

Ikhfa Syafawi, mim mati (مْ) ketemu baa (ب) dibaca samar-samar dibibir dan didengungkan
Contoh وَهُوْمْ بِهِ ، دَخَلْتُمْ بِهِنَّ

Idgham Mimi/Mutamasilaim, mim sukun (مْ) ketemu mim (م)
Contoh وَمَا لَهُمْ مِنَ ا للهِ 

Idhar Syafawi, mim mati (مْ) bertemu dengan semua huruf hijaiyah kecuali huruf mim (م) dan baa (ب) dan harus dijelaskan idharnya ketika bertemu wau (و) dan faa (ف) 
Contoh اَنْعَمْتَ ، لَهُمْ فِيْهَا ، عَلَيْهِمْ وَالضَّآ لِّيْنَ


Hukum Lam Ta'rief

Idhar Qomariyah/Al-Qomariyah, apabila laam ta'rief (اَلْ) ketemu (ء ب غ ح خ ج ك و ف ع ق ي م ه) dibaca terang.
Contoh اَلْاَ نْعَا مُ ، الْغَمَا مُ ، الْخَنَّةُ

Idgham Syamsiyah/As-Syamsiyah, apabila laam ta'rief (اَلْ) ketemu selain (ء ب غ ح خ ج ك و ف ع ق ي م ه) dibacanya di-idghom kan/dimasukkan
Contoh اَلسَّلَا مُ ، التَّوَّابُ ، بِا لصَّبْرِ 

"lanjutannya nanti lagi yah capek nulis di smartphone hehehe"

Senin, 31 Agustus 2015

Hukum Tajwid I

Hukum Nun Sukun (نْ) dan Tanwin (ٌ ٍ ً )

Idhar halqi, dibaca terang karna ketemu huruf halqi (ء ه ح خ ع غ)
Contoh مَنْ آمَنَ، مِنْهُ، غَفُرٌحَلِيْمُ، سَمِيْعٌ عَلِيْمُ

Idgham bigunnah, mentasjidkan (ي ن م و)
Contoh مِنْ نُوْرِ، مَنْ مَنَعَ ، مَنْ يَقُوْلُ

Idhar wajib, bila nun sukun dan tanwin ktm (ي ن م و) dibaca terang
Contoh دُنْيَا ، صِنْوَانٌ ، بُنْيَا نَ

Idgham Bilagunnah mentasjidkan (ل ر) dengan tidak mendengung
Contoh مَنْ لَمْ ، مِنْ رَبِّهِمْ

Iqlab, nun sukun dan tanwin ketemu (ب) bacaannya di tukar menjadi (م)
Contoh سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ ، تَنْبِيْهٌ

Ikhfa haqiqi, nun sukun dan tanwin bertemu (ت ث ج د ذ ز س ش ص ض ط ظ ف ق ) dibaca samar
Contoh مِنْ جُوْعٍ ، مِنْكُمْ

"bagian selanjutnya nanti saya tulis lagi, maklum ngetik di smartphone jadi saya bagi per-part hehehe"

Selasa, 25 Agustus 2015

Go ahead or Go Back Pt. 1

Wihh btw udah lumayan lama juga yah hampir 2 tahun kaga nulis blog sama sekali, ya mungkin efek sibuk uprek blog gue selagi gue SMP yang password blog + emailnya gue lupa (curcol booo, masa iya uprek sampe 2 tahunan wkwkwk)
Dah ah kembali ke topik hahaha
Entah harus mulai darimana yang pasti gue mau nulis aja. Jadi gini (udeh kek dongeng-dongeng gitu yakkk :D), langsung aja dah biar ga kepanjangannya. Entah ini terlalu dini atau apalah saya ga ngerti yang pasti saya punya tujuan hidup, dan tujuan hidup itu pasti mau yang cerah gitu yekan? (Lo mau masa depan lo butek gitu kek air comberan? *piss wkwkwk). Jadi gini, gue akhiri aja tulisan gue yg ini. Dahhh byeee *muahhhh hahahahaha
Gak lucu yah? Hmm emang ga lucu dan ga ada yang ngelawak lagian gue bukan pelawak jadi kaga bisa ngelucu dah hehehe
Intinya gue mau buat yang baca kentang, tau lah yau apa itu kentang dan rasanya kaga perlu dijelasin lg, kalo ga tau coba aja lo searching di google wkwkwk
Kenapa harus dikentangin? Yah kalo dibahas out of topic dah judulnya, intinya nantikan aja di tulisan selanjutnya biar kek pelem-pelem gitu ada episodenya hahaha

Sabtu, 28 Desember 2013

Lagi Dapet Hidayah

Jogging in the morning and there's something on my mind and I wrote it in this blog as a quote for my afterthought :)

"don't run away from a problem. make sure you get through it because you're a great human and success has been waiting for!"

Jumat, 27 Desember 2013

Just Let You Know

Mau nulis apa yah bingung gue?!!! (lah bingung kenapa nulis?!!!) iya juga yah hahaha
Jadi sebenernya apa nih yang mau gue tulis?!! (blog lo sendiri pake nanya!!) wkwkwkwkkw kalo dari judul sih udah kaya judul lagu yah? Hahaha tapi isinya mah gak jelas hahaha (emang orangnya juga gak jelas).
Ah udah ah daripada tambah gak jelas udahan aja lah cuma mau nulis kalo "GUE PENGEN BANGET ORANG YANG GUE SAYANG TAU KALO GUE SAYANG DIA!" miris banget yah gue? Wkwkwk (bego aja yah kenapa ga bilang langsung aja ke orangnya duhh). Gue orangnya pendiam dan pemalu sih di tambah orang yg dimaksud itu gak tau siapa orangnya karna emang hati gue lagi kosong hahaha (terus dari tadi lo ngomong apaaaaaa?????!!!!!!!!) Wahahaha sabar jon sruput aja dulu tuh kopi sama susunya biar enjoy yah ga? Hahaha
Mau nulis apalagi nih yah gue? Ah tapi udah ah nanti yang baca jadi ketularan gak jelas lagi wkwkwkwk